Setelah sempat dibuka secara fungsional pada arus mudik-balik Lebaran 2017, Tol Bawen-Salatiga resmi dibuka Presiden Jokowi pada Senin (25/9) petang.

Salah satu infrastruktur poker dan dominoqq yang harus dibangun negara demi memperlancar roda perekonomian masyarakatnya adalah jalur tol. Tak heran jika sejak Orde Baru hingga saat ini, pembangunan ruas jalan tol terutama di pulau Jawa masih jadi perhatian khusus pemerintah. Terbaru, Presiden Jokowi akhirnya meresmikan ruas Tol Bawen-Salatiga pada hari Senin (25/9) petang.

Melalui sebuah sirine, tol sepanjang 17,6 kilometer ini pun akhirnya resmi dibuka. Tol Bawen-Salatiga sendiri merupakan bagian dari jalan Tol Semarang-Solo dengan total mencapai 72,64 kilometer, seperti dilansir Kompas. Setelah Tol Bawen-Salatiga rampung, Jokowi rupanya memberi target agar Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono dan Menteri BUMN Rini Soemarno bisa membangun jalan tol sepanjang 1.200 kilometer sampai 2019.

Namun pada 2014, Basuki hanya bisa menyanggupi membangun 780 kilometer dalam waktu lima tahun. Jumlah ini tentu jauh jika dibandingkan dengan China yang mampu menyelesaikan 4.000-5.000 kilometer pertahun. 

Tol Bawen-Salatiga Punya Pemandangan Indah 

Ada yang menarik dari ruas jalan Tol Bawen-Salatiga. Tak lain karena tol ini menawarkan panorama gunung Merbabu yang sangat luar biasa. Tak heran jika akhirnya Tol Bawen-Salatiga dianggap sebagai jalur tol dengan pemandangan terindah di Indonesia. Karena setiap pelaju yang masuk ke Gerbang Tol Bawen-Salatiga akan langsung disambut dengan gagahnya Merbabu.

Namun lepas dari pemandangan gunung setinggi 3.145 mdpl itu, ruas Tol Bawen-Salatiga dibangun demi mempercepat mobilitas barang dan manusia di pulau Jawa. Tak heran kalau pada masa arus mudik-balik Lebaran 2017 lalu, Tol Bawen-Salatiga sudah dibuka secara fungsional mulai H-7 sampai H+7 Lebaran. Merupakan Seksi III dari Jalan Tol Semarang-Solo, ruas Tol Bawen-Salatiga merupakan bagian dari Tol Trans-Jawa.

Usai mempercantik penampilan, jalan bebas hambatan ini sebetulnya sudah dibuka untuk umum hari Jumat (15/9) pada pukul 16.00 WIB.  Di awal pembukaan, kendaraan yang melintas masih terbatas untuk golongan I seperti sedan, jip, dan mobil bak terbuka dengan tarif gratis. Pemberlakuan tarif sendiri baru terjadi seminggu kemudian yakni pada Jumat (22/9). 

Tarif Tol Bawen-Salatiga Terlalu Mahal?

Usai gratis sepekan, pengenaan tarif pun dibebankan pada pengendara sesuai Keputusan Menteri PUPR RI nomor 718/KPTS/M/2017 tanggal 15 September 2017. PT Trans Marga Jateng (TMJ) sebagai pemegang konsesi jalan menetapkan tarif kendaraan golongan I sebesar Rp 17.500, golongan II Rp 26.500, golongan III Rp 35.000, golongan IV Rp 44.000 dan golongan V Rp 53.000.

Hanya saja seorang pengendara yakni Hendro Prastowo yang berasal dari Ambarawa menilai kalau tarif Tol Bawen-Salatiga itu terlalu mahal. Beban jelas dirasakan oleh mereka yang menggunakan Tol Bawen-Salatiga sebagai jalur harian. Atas keluhan pengendara, Joko Santoso selaku Staf Bidang Operasi dan Pengembangan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) menjelaskan bahwa pertimbangan tarif berdasarkan biaya investasi yang memang cukup besar.

Beberapa perubahan desain karena permintaan warga dan instansi berimbas pada membengkaknya biaya. Usai menghitung nilai investasi, PT TMJ mengusulkan tarif ke Kementrian PUPR sebesar Rp 1.000/km dan sudah disetujui. Namun jika dianggap Tol Bawen-Salatiga memiliki tarif termahal, Joko justru memberi contoh jika ruas Tol Kertosono-Mojokerto di Jawa Timur malah dipatok Rp 1.160/km.

“Sebetulnya ini bukan hanya semata mengukur jarak. Tapi investasi yang dikeluarkan movie online setiap kilometer juga dihitung. Jadi tarif per kilometer di ruas Banyumanik-Ungaran bisa jadi berbeda dengan yang di ruas Ungaran-Bawen maupun Bawen-Salatiga,” tutup Joko.