Ada sebuah wabah yakni kekerasan pada orang lain yang dilakukan oleh remaja, siswa di Indonesia dan itu dampaknya sangat buruk.

Jika Anda masih ingat, lebih dari satu tahun yang lalu, ada seorang siswa yang tewas karena aksi ‘gladiator’. Siswa tersebut adalah Hilarius Christian Event Raharjo, siswa SMA Budi Mulia yang meninggal dunia setelah ia berduel ala-ala gladiator dengan seorang siswa SMA bernama Mardi Yuadi.

Baru ditangkap Setahun Setelah Kejadian

Baru setelah satu tahun dari kejadian tersebut, pada hari Kamis, 21 September 2017, tepatnya, polisi akhirnya berhasil menangkap tersangka yang mana terlibat dalam perkelahian ala gladiator itu. hal itu terjadi setelah orang tua dari korban yang mana semula menolak diadakannya otopsi bersedia untuk melakukan otopsi bagi jenazah putranya untuk diperiksa kembali. “Dengan menulis surat kepada presiden, kami langsung datang ke orang tuanya. Kami menyampaikan bahwasanya apa saja upaya yang Ibu lakukan tak akan bisa jika korban tidak diotopsi karena kami ingin mengetahui sampai mana penyebab kematian korban tersebut,” ungkap Kombes Ulung Sampurnajaya judi online, Kepala Polresta Bogor.

Ia menambahkan, “Akhirnya sesudah kita menyampaikan hal itu, keluarga dari korban mau juga dan pada hari Senin kemarin lah kita melakukan otopsi.” Ditetapkan ada 4 tersangka dalam kematian Hillarius yang mana salah satunya lawan korban saat berduel, sedangkan 2 lainnya masih menjadi buron.

Sulitnya dipantau Sekolah

Walaupun kasus gladiator ini pasalnya baru pertama kalinya diterima oleh Polresta Bogor, dikhawatirkan juika masih banyak lagi kekerasan yang lainnya di mana terjadi di kalangan para siswa SMP atau SMA. Dan tentu saja semuanya tak berakhir dengan kematian. Jelaslah, bahwa kematian Hillarius karena duel dengan temannya itu bukan kali pertamanya.

Dan bulan Mei 2017 lalu, contohnya, ada seorang siswa SMA yang ada di Palangkaraya meninggal karena ia dikeroyok. Lebih lagi, pada awal Maret, ada siswa SMA yang berasal dari Situbondo juga yang meninggal karena tawuran. Pada bulan Juni, lagi, seorang siswa di Bogor juga meninggal usai duel yang mana disaksikan oleh siswa-siswa yang lainnya.

Seorang mantan murid sekolah swasta yang terkenal di Jakarta, contohnya, mengungkapkan bahwa ada semacam tradisi untuk ‘membully’ atau memelonco murid-murid baru yang baru masuk ke sekolah dengan tindakan yang mengandung kekerasan fisik.

Dan menurut Kasubbag Perencanaan dan Pelaporan Dina Pendidikan Kota Bogor, Jajang Koswara, perkelahian yang seperti itulah sulit sekali dipantau oleh pihak sekolah karena pasalnya perkelahian itu terjadi di luar setelah KBM selesai. “Kalau di sekolah, kita bisa mengawasi sesuai dengan tata tertib sekolah dan sesuai dengan aturan dari pemerintah. Kami juga pernah mendengar bahwa tidak bisa dikontrol kalau ada sekolah besar yang bertingkat,” ungkapnya.

Mencari Eksistensi

Kekerasan mewabah di kalangan remaja dan itu termasuk siswa di Indonesia. Sulit dipahami mengapa hal itu terjadi. Akan tetapi Erlinda, Anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia, mengemukakan pendapatnya bahwa ada kaitannya dengan masa akil balik di mana mereka mencari eksistensi diri. “Saat kita menariknya dengan psikologi, saat anak remaja tidak diakui eksistensinya, mereka mencari tempat yang mana ingin diakui,” ungkapnya.

“Yang kedua, ketika eksistensinya tidak diterima dan lain sebagainya mereka mencari perhatian supaya bisa menunjukkan ‘ini lho, saya, kamu harus mengakui saya’.”

Tentu saja perilaku ini sangat memprihatinkan khususnya bagi remaja Indonesia yang mana generasi muda togel hk yang seharusnya paham apakah kekerasan itu dan dampaknya. Bahkan sekolah yang tidak bisa memantau juga harus aktif lagi dalam memerangi ‘wabah’ ini.